Depan

Berita Kampus

Penelitian







FIP

FPBS

FPIPS

FPMIPA





Yayasan

Unsur Pimpinan

Senat Institut

Unsur Pelaksana Akademik

Unsur Pelaksana Administrasi

Unsur Unit Pelaksana Teknis








Laboratorium

Perpustakaan

Lembaga Penelitian

Unit Kegiatan Mahasiswa

Fasilitas Ruang Kuliah

Gedung Perkuliahan

Hotspot Area

Klinik





Rabu, 11 November 2009 - 09:53:14 WIB
HAI PEMUDA, BANGKITLAH
Diposting oleh : Administrator - Dibaca: 683 kali

Muhdi, S.H., M.Hum., Alhamdullilah kita diberi kesempatan paling tidak untuk memperingati kembali Sumpah Pemuda. Pemuda Indonesia yang saya cintai, 81 tahun silam tepatnya 28 Oktober 1928, pemuda Indonesia bersumpah untuk bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu yaitu Indonesia. Sungguh kaum muda saat itu mampu berfikir melampaui zamannya sekaligus menangani tantangan riel pada zamannya yaitu sekat-sekat etnis dan bahasa.


 


Agen colonial memecah belah pribumi dengan menanamkan identitas etnik hingga organisasi yang muncul pada saat itupun bersifat kedaerahan.seperti Jong Java, Jong Minahasa, Jong Ambon dan lain sebagainya.


Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia  (PPPI) yang beranggotakan pelajar-pelajar dari seluruh Indonesia menggagas kongres pemuda yang dilaksanakan melalui kongres kesatu pemuda pada 30 Oktober 1926 dan dilanjutkan kongres kedua pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928.


Dalam kongres tersebut tokoh muda Muhammad Zamin menguraikan arti dan hubungan pemuda dengan persatuan. Ada lima faktor yang memperkuat persatuan Indonesia antara lain sejarah, bahasa, hukum, adat, pendidikan, dan kemauan.


Masalah lain di hari ke dua yaitu masalah pendidikan, kebangsaan, keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Pendidikan harus berikan secara demokratis. Pada hari ketiga yaitu penutupan dibahas pentingnya nasionalisme, dan demokrasi. Saat itulah teks Sumpah Pemuda dibacakan. Mereka bersumpah untuk bertanah air satu, dan berbahasa satu bahasa satu bahasa Indonesia.


Saudara-Saudara sekalian, pada saat itu pula dikumandangkan lagu Indonesia Raya untuk pertama kalinya. Bayangkan saudara-saudara tujuh belas tahun sebelum merdeka anak muda telah mampu berfikir melampau zamannya. Para pemuda saat itu berkumpul dan berani melawan status quo pada zamannya yaitu penjajah.


Sepulang dari kongres tersebut para pemuda peserta kongres dicemooh di masyarakat. "Belanda kok dilawan, bahasa daerah kita mau dikemanakan, kalau sudah menyatakan berbahasa satu." Mereka adalah anak-anak muda pemberani yang mampu mengantisipasi perubahan zaman.


Fondasi bangsa ini lahir jauh sebelum bangsa ini ada. Kesadaran untuk satu bahasa. Mereka adalah para pemuda yang memikirkan nasib tanah airnya, maka mereka melakukan langkah bersejarah yaitu sumpah pemuda yang selanjutnya menjadi rahim yang melahirkan bayi Indonesia.


Kini setelah sekian tahun merdeka tanah air kita menghadapi berbagai masalah dan para pemuda dituntut mengantisipasi perubahan seperti dilakukan oleh pemuda di era 1928. Pemuda pada masa itu mengantisipasi perubahan dunia baru yang muncul tujuh belas tahun kemudian yaitu kemerdekaan.


Sekarang, dunia baru semakin terlihat wajahnya. Mampukah kita menjadi pemain sendiri di era globalisasi. Saat ini berbagai permasalahan bangsa dihadapkan di depan kita. Masalah kemiskinan, pengangguran, masalah pendidikan, korupsi. Di sekitar kita masih banyak anak-anak tidak mengenyam pendidikan. Di lingkungan kita masih banyak kita lihat saudara-saudara yang kelaparan. Di depan kita, kita lihat para koruptor, di depan kita kita lihat hukum yang carut marut.


Hai pemuda, bangkitlah. Hadapi masalah bangsa ini sesuai kemampuan kita masing-masing.