Depan

Berita Kampus

Penelitian







FIP

FPBS

FPIPS

FPMIPA





Yayasan

Unsur Pimpinan

Senat Institut

Unsur Pelaksana Akademik

Unsur Pelaksana Administrasi

Unsur Unit Pelaksana Teknis








Laboratorium

Perpustakaan

Lembaga Penelitian

Unit Kegiatan Mahasiswa

Fasilitas Ruang Kuliah

Gedung Perkuliahan

Hotspot Area

Klinik





Kamis, 21 Januari 2010 - 10:10:15 WIB
PERGUMULAN DENGAN BUKU
Diposting oleh : Administrator - Dibaca: 818 kali

Mahasiswa dikenal sebagai kelompok masyarakat yang cendikia. Di dalam masyarakat, mahasiswa dianggap mampu atas segala hal yang sedang berkembang, baik itu masalah politik, budaya, dan ilmu mutakhir. Buku adalah hal yang tidak pernah terlepas dari orang-orang cendikia. Banyak tokoh-tokoh diajukan sebagai contoh. Sukarno dan Hatta, dua proklamator Republik Indonesia adalah orang-orang yang tidak pernah lepas dengan buku. Mereka adalah pembaca sekaligus penulis buku. Bukan hanya buku yang ditulis dalam Bahasa Indonesia, tetapi juga buku-buku yang ditulis dalam bahasa Inggris, Prancis, Belanda, dan lainnya. 


            Terinspirasi akan hal itulah Lembaga Penerbitan Mahasiswa (LPM) Vokal IKIP PGRI Semarang menyelenggarakan bedah buku setiap minggunya. “Selain menerbitkan majalah, bulletin, dan mading, kegiatan LPM Vokal IKIP PGRI Semarang yang lain adalah bedah buku. Bergumul dengan buku adalah bergumul dengan pemikiran-pemikiran yang telah dihasilkan oleh cendikia pada masa lalu. Membaca pergumulan pemikiran melalui buku itu sebagai latar belakang tulisan-tulisan kita yang nanti akan keluar di majalah maupun di media umum. Ini menghindari kekosongan isi pada tulisan.” diuangkapkan oleh Farid Firdaus, Pimpinan Umum LPM Vokal IKIP PGRI Semarang. 


            Bedah buku dilaksanakan seminggu sekali setiap hari Rabu pukul 14.30. WIB. Diskusi biasanya dilaksanakan di lobi Gedung Perpustakaan, namun pertemuan terakhir (20) dilaksanakan di ruang rapat Gedung PKM IKIP PGRI Semarang. 


            Setiap buku dibedah oleh dua orang. Si pembedah juga harus membawa ulasan tertulis tentang buku. Buku-buku yang telah dibedah antara lain; Pangan, Sejarah, Silang Budaya, dan Masa Depan; Local Genius; Interelasi Islam dan Jawa; Perkembangan Priyayi; Mentalitas, Kebudayaan, dan Pembangunan; Dari Jawa Menuju Aceh; Etika Jawa. 


            Muniroh salah seorang pembedah buku Interelasi Islam Jawa menyampaikan bahwa Islam di Jawa Islam disebarkan secara damai dimulai dari kalangan rakyat jelata. Langkah ini dipilih karena penyebar belum memiliki jalur dari kalangan atas. Pengislaman secara damai dengan cara memasukkan nilai-nilai Islam kedalam ajaran lama yang sudah mengakar, cara seperti ini sering disebut dengan metode sinkretisme.


            Muhhamad Dliyaul Haq yang membedah buku yang sama menyampaikan bahwa pertumbuhan Islam di Jawa juga diwamai dengan munculnya lembaga pendidikan pesantren. Pesantren merupakan lembaga pendidikan keagamaan yang di fungsikan sebagai tempat untuk belajar pengetahuan agama Islam ke level yang lebih tinggi. Munculnya pesantren ini ditengarahi untuk mentranmisikan Islam tradisional. Para ahli sejarah berbeda pendapat tentang asalmula pesantren ini. Ada yang menganggap bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan keagamaan yang merupakan kelanjutan dari lembaga pra-Islam yang disebut Mandala. Pendapat ini di dasarkan atas adanya beberapa persamaan antara pesantren dan mandala. Yaitu (1) sama-sama memiliki lokasi yang jauh dari keramaian. (2) sama-sama memiliki tradisi ikatan guru dan murid. (3) sama-sama memiliki model pengajaran yang di sebut halaqoh (lingkaran), yaitu kiai/guru duduk di dekat tiang sedangkan murid-murid nya duduk di depannya membentuk lingkaran.


            Farid Firdaus menegaskan bahwa forum bedah buku ini untuk umum, semua mahasiswa dan dosen IKIP PGRI Semarang boleh turut serta, baik sebagai pembedah buku maupun peserta biasa. (SK)